BANDUNG, JENDELAPRIMA.COM,— Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, AP., M.M., melakukan kunjungan kerja ke Rumah Maggot BSF Cibadak Unggul di Jalan Pagarsih RW 03, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar, Senin (28/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memantau langsung efektivitas pengolahan sampah organik berbasis kewilayahan yang menjadi salah satu strategi Pemkot Bandung dalam mengatasi persoalan sampah dari hulu.
Dalam kunjungan itu, Kadis DLH didampingi Sekretaris DLH Kota Bandung Dadang Setiawan, S.IP., M.Si. Rombongan disambut Camat Astana Anyar Drs. H. Amin Jarkasih, M.M., Lurah Cibadak Dadan Suhendra, S.T., M.M., Kasi Ekbang Kelurahan Cibadak Herlina Noviana , serta empat petugas pengelola Rumah Maggot (Rugot) Cibadak Unggul.

Mampu Olah 120 Kg Sampah Per Hari
Petugas Rugot Cibadak Unggul, Iing Resmiati menjelaskan, fasilitas pengolahan yang dikelolanya saat ini mampu mengolah sampah organik rata-rata 120 kilogram per hari.
“Saat ini kami bisa mengolah sampah organik per hari sebanyak 6 ember, dimana per ember berkapasitas 20 kg, sehingga total kurang lebih 120 kg sampah organik terolah setiap harinya,” ujar Iing.
Ia menyebut, selain mengandalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), Rugot Cibadak Unggul juga menerapkan metode penunjang seperti bata terawang dan Lodong Sesa Dapur (Loseda) untuk memaksimalkan proses penguraian.
Sementara itu, Kasi Ekbang Kelurahan Cibadak Herlina Noviana menambahkan, bahan baku sampah organik berasal dari hasil pemilahan sampah rumah tangga warga yang dikumpulkan secara rutin oleh petugas Gober dan Petugas Penanganan Sampah (Gaslah) RW setempat.
“Sumber sampah organik ini berasal dari sampah warga yang dikumpulkan oleh para Gaslah RW,” jelas Herlina
Apresiasi Kadis DLH
Atas konsistensi dan kinerja tersebut, Kadis DLH Kota Bandung Darto menyampaikan apresiasi dan komitmen dukungan terhadap keberlanjutan program Rugot di kewilayahan.
“Terima kasih kepada Ibu dan Bapak sekalian atas jerih payahnya dalam membantu pemerintah kota mengatasi tantangan sampah organik dari hulu. Peran aktif kewilayahan seperti ini adalah kunci,” ungkap Darto.
Darto menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi pada kolaborasi antara DLH, kewilayahan, dan partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.
Kunjungan kerja ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dan menjadi model percontohan pengolahan sampah organik di kelurahan lain dalam mewujudkan Kota Bandung yang bersih, hijau, dan bebas dari permasalahan sampah.**Ipung








