BANDUNG,JENDELA PRIMA.COM, – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menitipkan lima agenda strategis kepada pengurus baru Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung masa khidmah 2026-2031. Mulai dari penanganan masalah sosial, penguatan ekonomi umat, hingga edukasi kebencanaan dan pengelolaan sampah.
Amanat tersebut disampaikannya saat pelantikan Dewan Pertimbangan dan Pengurus Harian MUI Kota Bandung di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (10/10/2026).
Farhan menegaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan kemitraan ulama untuk menjawab tantangan perkotaan yang kompleks.
“Pemerintah Kota Bandung memerlukan kemitraan bersama para ulama. Karena masalah sosial tidak selesai dengan dua gebrakan,” kata Farhan.
1. Tangani Masalah Sosial Secara Manusiawi
Farhan menyebut Bandung menghadapi persoalan sosial yang kompleks: penyalahgunaan narkoba, prostitusi ilegal, peredaran miras, hingga judi online (judol).
Menurutnya, penanganan tidak cukup dengan penertiban, tetapi harus dengan pendekatan pembinaan, kelembagaan, dan kewilayahan agar tidak memicu main hakim sendiri atau persekusi.
“Saya bersama Forkopimda sangat mengharapkan bimbingan para ulama agar kita bisa sama-sama menyelesaikan masalah tersebut dengan cara yang paling manusiawi,” ujarnya.
Farhan juga menyoroti dampak judol yang merusak keluarga. Ia menceritakan warga yang kehilangan akses bansos karena NIK-nya terindikasi dipakai untuk judol.
“Tidak mudah mengembalikan orang yang sudah kecanduan judi. Tidak mudah sama sekali,” ungkapnya.
2. Penguatan Ekonomi Umat Lewat Sertifikasi Halal
Agenda kedua adalah edukasi sertifikasi halal. Farhan meminta MUI memperluas sosialisasi halal, termasuk melalui komunikasi lintas agama secara inklusif.
Menurutnya, sertifikasi halal bukan hanya soal keyakinan, tetapi nilai tambah ekonomi untuk daya saing produk lokal.
“Saya sangat mengharapkan para ulama dengan jejaring yang luar biasa dengan pemuka agama lain untuk melakukan edukasi sertifikasi halal ini,” ujarnya.
Farhan menyebut pertumbuhan ekonomi Kota Bandung tren positif: 4,99% akhir 2024, naik jadi 5,29% akhir 2025, dan sekitar 5,8% di semester I 2026.

3. Optimalkan Zakat Bersama Baznas
Ketiga, Farhan mendorong MUI bekerja sama dengan Baznas Kota Bandung untuk mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah dengan metode modern, transparan, dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Saya sangat mengharapkan MUI dapat berijtihad bersama Baznas mencari berbagai kemungkinan dan cara komunikasi untuk penggalangan dana umat,” kata Farhan.
4. Edukasi Warga Tangguh Bencana Lewat Toa Masjid
Persoalan perubahan iklim dan risiko bencana menjadi perhatian keempat. Farhan mengajak MUI menyusun kajian keagamaan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Ia mengusulkan kolaborasi MUI, Pemkot, dan BPBD memanfaatkan jaringan masjid sebagai media edukasi.
“Karena salah satu metode edukasi tentang masyarakat tangguh bencana yang paling efektif, saya yakin, adalah melalui toa masjid,” katanya.
Selain itu, Farhan juga meminta dukungan pendataan masjid berstatus wakaf untuk mendukung perencanaan sarana air bersih, mengingat cakupan layanan air perpipaan di Bandung baru 38%.
5. Edukasi Pemilahan Sampah dari Rumah
Terakhir, soal penanganan sampah. Farhan menyebut Pemkot terus mengembangkan metode pengolahan sampah organik melalui kompos di tingkat kewilayahan, namun harus dibarengi perubahan perilaku warga.
“Saya sangat mengharapkan Majelis Ulama bersama para kiai, ustaz dan ustazah agar melakukan edukasi tentang pemilahan sampah,” tegasnya.
Ia berharap masjid dan tokoh agama menjadi bagian gerakan edukasi lingkungan sehingga memilah sampah menjadi kebiasaan masyarakat.**Ipung







