JENDELAPRIMA.COM||
Bandung, 22 Juli 2026 – Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Bandung, Eka Sandi, bersama jajaran pengurus menghadiri kegiatan Penanaman Pohon Perdana Periode Juli–Oktober 2026 dalam Program Rindu Rindang yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung di RW 09, Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi langkah nyata Pemerintah Kota Bandung dalam mempercepat penghijauan sebagai solusi jangka panjang menghadapi ancaman krisis air bersih serta bencana hidrometeorologi melalui Program Rehabilitasi Ruang Publik dan Ruang Terbuka Hijau.

Ketua FPRB Kota Bandung, Eka Sandi, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif BPBD Kota Bandung yang menginisiasi Program Rindu Rindang. Menurutnya, gerakan penghijauan merupakan bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Kami sangat mendukung Program Rindu Rindang dan siap bersinergi dengan BPBD Kota Bandung dalam setiap upaya pengurangan risiko bencana, khususnya melalui penghijauan dan pelestarian lingkungan,” ujar Eka Sandi.

Penanaman pohon perdana dilakukan langsung oleh Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan. Dalam sambutannya, Farhan menegaskan bahwa penanaman pohon bukan sekadar mempercantik lingkungan, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, menjaga ketersediaan air tanah, serta memperkuat ketahanan Kota Bandung dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Kalau dibandingkan antara pembangunan fisik dengan penghijauan memang masih jauh. Tetapi upayanya tidak boleh berhenti. Ruang terbuka hijau kita masih di bawah 15 persen. Karena itu setiap penanaman pohon menjadi sangat penting agar vegetasi terus bertambah dan tercatat dalam peningkatan indeks ruang terbuka hijau,” kata Farhan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, menjelaskan bahwa penghijauan merupakan solusi paling efektif untuk mengatasi ancaman krisis air yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kota Bandung.
Berdasarkan data BPBD Kota Bandung, terdapat 13 kecamatan dan 24 kelurahan yang berpotensi mengalami krisis air bersih, meliputi 114 RW, 167 RT, serta 6.353 kepala keluarga atau sekitar 23.379 jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan minimum masyarakat terdampak, dibutuhkan sekitar 331.695 liter air bersih per hari, atau setara dengan sekitar 70 mobil tangki air setiap hari. Apabila kondisi tersebut berlangsung selama satu bulan, kebutuhan distribusi air diperkirakan mencapai hampir 2.200 mobil tangki.
“Kalau hanya mengandalkan distribusi air bersih, tentu biayanya sangat besar. Solusi permanennya adalah meningkatkan resapan air melalui penghijauan dan penambahan ruang terbuka hijau,” jelas Didi Ruswandi.
Ia menambahkan, kawasan hijau memiliki kemampuan menyerap sebagian besar air hujan sehingga mampu mengurangi limpasan permukaan yang menjadi penyebab banjir, sekaligus meningkatkan cadangan air tanah saat musim kemarau.
Sebagai inovasi dalam menjaga tingkat keberhasilan penanaman, BPBD Kota Bandung juga menerapkan metode irigasi kapiler, yakni memanfaatkan botol berisi air yang ditanam di sekitar pohon sehingga kelembapan tanah dapat terjaga secara bertahap selama musim kemarau.

Melalui Program Rindu Rindang, Pemerintah Kota Bandung bersama BPBD berharap tercipta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam memperluas ruang terbuka hijau sekaligus membangun ketahanan lingkungan yang berkelanjutan.
Kehadiran FPRB Kota Bandung dalam kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen organisasi dalam mendukung setiap program mitigasi bencana berbasis lingkungan serta memperkuat sinergi dengan BPBD Kota Bandung demi mewujudkan kota yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.(Ipung)