JENDELAPRIMA.COM||

Bandung – Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat budaya inovasi melalui Program Pamong Inovasi, sebuah model pembinaan inovasi yang dikembangkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kota Bandung untuk membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan di seluruh perangkat daerah. Program yang digagas oleh Wiedy Yang Essa, M.T., Peneliti Ahli Muda BAPPERIDA Kota Bandung ini lahir sebagai respons atas tantangan masih banyaknya inovasi yang berhenti pada tahap kompetisi atau belum berkembang menjadi praktik yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Pamong Inovasi tidak hanya mendorong lahirnya inovasi baru, tetapi juga memperkuat tata kelola inovasi melalui pendampingan, peningkatan kapasitas aparatur, monitoring dan evaluasi, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Setiap perangkat daerah didorong memiliki agen perubahan yang berperan sebagai pendamping inovasi sehingga inovasi dapat terdokumentasi dengan baik, berkelanjutan, dan mudah direplikasi.

Menurut Wiedy Yang Essa, membangun inovasi tidak cukup hanya menghasilkan ide-ide baru. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan inovasi menjadi bagian dari budaya kerja organisasi.

“Pamong Inovasi kami rancang sebagai pendamping sekaligus penggerak inovasi di setiap perangkat daerah. Tujuannya agar inovasi tidak berhenti sebagai dokumen atau kegiatan sesaat, tetapi terus berkembang dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Upaya tersebut menunjukkan hasil yang positif. Jumlah inovasi Pemerintah Kota Bandung meningkat dari 401 inovasi pada Tahun 2025 menjadi 676 inovasi hasil inventarisasi Tahun 2026. Setelah melalui proses monitoring, verifikasi, validasi, dan kurasi, sebanyak 505 inovasi aktif ditetapkan dalam Keputusan Wali Kota Bandung Tahun 2026. Pada saat yang sama, nilai Indeks Inovasi Daerah (IID) Kota Bandung juga meningkat 7,92 poin menjadi 65,07 dengan predikat Sangat Inovatif, yang mencerminkan peningkatan kualitas tata kelola inovasi, bukan hanya pertambahan jumlah inovasi.

Untuk menjaga keberlanjutan inovasi, BAPPERIDA mengembangkan Siklus Pembinaan Pamong Inovasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Siklus tersebut meliputi monitoring dan evaluasi inovasi, asistensi penyusunan proposal, pendampingan evidence Indeks Inovasi Daerah, Bandung Innovation Forum sebagai ruang berbagi praktik baik, bimbingan teknis presentasi inovasi, fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), pengembangan business matching, hingga Apresiasi Pamong Inovasi Terbaik sebagai bentuk penghargaan bagi perangkat daerah dan inovator yang berkontribusi terhadap penguatan budaya inovasi.

Sebagai hasil pembinaan tersebut, Pemerintah Kota Bandung menetapkan 25 inovasi unggulan yang mewakili berbagai sektor pembangunan dan pelayanan publik, antara lain E-Lite, AMANAH, SIKDA, Senandung Perdana, E-Penting, BEMO, SUHUNAN, NEW BIMMA, Konservasi Mata Air menjadi Ruang Publik dan Ruang Terbuka Hijau, Kampung Wisata Kreatif Cinambo, Wargapedia, Rasa Sehat, KOPER ANTING, Gerobaks, Katresna, Lapor Sikasih 27, BEJAKEUN, POINKU CIJERAH, KALECI, dan ABAH TIMI. Inovasi-inovasi tersebut menjadi representasi praktik baik Kota Bandung dalam bidang tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi lokal.

Ke depan, Pemerintah Kota Bandung akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat untuk membangun ekosistem inovasi yang semakin matang. Melalui Pamong Inovasi, inovasi diharapkan tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir atau sekadar kompetisi, tetapi menjadi budaya kerja yang mendorong terwujudnya Bandung UTAMA melalui pemerintahan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang berkualitas.


administrator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *